Posted in Matematika Sehari-Hari, Uncategorized

Bandar Judi: Intuisi vs Kalkulasi Bagian 1

Waktu di jam tangan sudah menunjukkan pukul 8. 15. Aku segera berusaha berlari menuju ruang kelas A8 0.01, agar saya tidak tertinggal terlalu banyak materi Analysis 3 tentang Mass and Integration Theory. Beberapa saat, saya mendorong pintu sekencang-kencangnya dan duduk 3 baris dari belakang. Aku terkejut dengan tema yang disampaikan pak Martin. Biasanya dia bermain dengan cacing-cacing integral dan himpunan. Sekarang dia hanya menulis di papan “Bayern Muenchen 2,00 x Inter Mailand 1,50” dengan besar.

“Apa Tim Favorit kalian ?”, tanya dosen yang memakai baju kotak-kotak kecil berwarna abu-abu.

“Real Madrid.”, ucap Denis, seorang lelaki Turki yang tinggi dan rambutnya berjambul.

“Bayern Munchen.” ucap Michael, seorang lelaki jerman, berambut pirang.

“AC Milan.” jawab saya.

Kemudian aku ditertawakan dan diledek oleh Michael, Denis , Fabian, Toni dan Christian.

Dosen berbadan besar itu memulai tema dengan memberikan contoh kasus yaitu prediksi pertandingan raksasa Jerman, Bayern Munchen, melawan tim papan tengan Italia, Inter Milan dalam kemasan taruhan. Pak Martin meminta mahasiswa untuk menujukkan angka terkecil. Jari-jari mahasiswa menunjuk pada angka 1,50.

Dalam ilmu taruhan olahraga, tim yang diunggulkan menang akan mendapat koefisien yang lebih kecil. Mengapa koefisiennya lebih kecil ?

Menurut skript bapak Martin, koefisien d didapat dari modal kemenangan yang sudah disiapkan oleh bandar dibagi jumlah petaruh yang mendukung tim a. Koefisien d yang dicari oleh bapak Martin hanya berdasarkan pada selera para petaruh.

Menurut pengamatan penulis, koefisien a didapat dari 100 % / presentase rekor pertemuan antar kedua tim dalam minimal 30 kali pertemuan beserta faktor lainnya. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi presentase tersebut ? Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi suatu presentase.

Sebelum saya menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi presentase kemenangan suatu tim, ada satu syarat yang harus dipenuhi dalam bursa taruhan, yaitu harus bertemu dalam n (suatu bilangan yang besar) kali . Apa yang bursa judi lakukan bila kedua tim tidak bertemu dalam n (bilangan dalam jumlah yang besar) kali sebagai batas minimal ?  Mereka menghitung rekor pertemuan kedua tim dan  k (bilangan dalam jumlah yang besar) pertandingan terakhir.

Faktor pertama adalah kondisi dalam internal tim. Apakah ada pemain yang cedera ? Apakah ada pemain kunci yang terkena akumulasi kartu atau skorsing ? Adakah pemain yang sedang on-fire ? Bagaimanakah kondisi ruang ganti pemain ? Apakah pelatih dalam tim tersebut sedang tertimpa isu-isu miring seperti pemecatan dan tidak akur dengan seorang pemain ? Dan masih banyak.

Faktor kedua adalah keuntungan tim dalam bermain di kandang. Semakin atmosfer suporter tim kandang sangat menakutkan bagi tim lawan, semakin kecil kemungkinan tim tandang meraih kemenangan. Contohnya Barcelona selalu diunggulkan melawan Real Sociedad di kandang Sociedad. Akan tetapi, Barcelona meraih hasil yang tidak memuaskan bila tim Barcelona bermain di kandang tersebut.

Sesudah kita menelaah presentase yang muncul dalam bursa taruhan dan , kita sama-sama menelaah ilmu yang digunakan dalam perhitungan koefisien taruhan.

Dalam ilmu perhitungan koefisien, bandar Judi memakai Teori Dutch Book dan Teori Parimutuel, yang berbasis pada manajemen resiko, teori permainan dan measure and integration theorem dalam berbagai perhitungan. Apa persamaan dan perbedaan Teori Dutch Book dan Teori Parimutuel ?

Teori Dutch Book adalah teori perbandingan jumlah keseluruhan uang yang dihabiskan oleh banyak orang untuk mendukung tim A maupun tim B. Semakin banyak uang yang dihabiskan oleh si petaruh untuk mendukung suatu tim, maka suatu tim akan diunggulkan daripada tim yang lainnya.

Teori Parimutuel hampir serupa dengan teori Dutch Book dalam nominal uang.  Namun, perbedaan teori penghitungan perbandingan. Bila Dutch Book menghitung hanya jumlah uang saja, Parimutuel menggunakan sistem pembagian yang cukup merata.

Begini penggambaran teori Parimutel. Ada 10 orang bertarung menebak siapa juara Liga Inggris musim ini dengan jumlah uang taruhan yang berbeda. Lalu, Uang taruhan 10 orang ini digabungkan dan disisakan oleh komisioner (misalkan hanya 15 %) sebagai modal petaruh 10 orang. Setelah modal petaruh dihitung, modal dilipatgandakan sejumlah orang yang ikut taruhan. Kemudian, modal yang dilipatgandakan tadi dibagi dengan jumlah uang yang dikeluarkan oleh setiap petaruh. Semakin besar uang petaruh yang dikeluarkan, semakin kecil koefisien bandar dan tim yang dijagokan diunggulkan menjadi juara liga.

Benar kata Martin, taruhan bola hanya urusan selera penonton dan petaruh. Bukan selera penonton atau banyak-banyakan fanbase di dunia yang bisa membuat tim menjadi lebih kuat. Lapangan hijau atau lapangan lainnya cukup membuktikan kekuatan gladiator-gladiator lapangan dalam meraih kejayaan gladiator tersebut.

Sachsenhausen, Frankfurt am Main

13.01.2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s