Posted in Cerita Fantasi

Antara Aku dan Dosen Putri Solo (Bagian 1)

Jam dinding di kelas 101 di THM sudah menunjukkan pukul 07.30. Ramadhan sudah mendekati 10 hari terakhir. Aku mencoba tidur sebentar, agar badan tidak lemah, letih dan lesu saat Vorlesung Stochastik 1 berlangsung.

20 menit kemudian, langkah kaki siswa dan siswi semakin keras mendekati kelas. Aku tiba-tiba terbangun dengan muka yang sangat pucat seperti orang yang terkena tifus.

“Rakan, jangan tidur terus!”, ujar Michael, pria berambut pirang dan berkulit putih,.

“Apa yang kau lakukan semalam ? Sehingga mukamu menjadi pucat seperti ini.”, ucap Toni, seorang pria setinggi aku dan blasteran Jerman-Kroasia.

“Gue tidur jam 12 malem dan bangun jam 3 pagi.”, ucap gw dengan lemas dan pelan.

What ? Lo bangun jam 3 pagi ? Yang bener lo ?”, ucap Fabian , pria pemain tenis meja no. 1 di daerah Hessen dan keturunan Korea.

“Iya gue bangun jam 3 pa…”, tutur gw seperti orang melantur.

“Brak !”. Tiba-Tiba, dorongan pintu bapak Kochmann yang sangat keras menghentikan pembicaraan kami berempat.

Ja, Schonen Guten Morgen. Herzlich Wilkommen zur Statistik. …”, sapa pak Kochmann kepada murid-muridnya.

Dosen berbadan tinggi dan kurus mulai mengawali pelajaran statistik, tanpa sedikitpun bahasa basi khas orang Jerman asli. Dosen berkemeja putih kotak-kotak dan bercelana kain hitam seperti pelamar kerja memulai materi Mean, Median, Modus, Range. Ia menjelaskan dasar-dasar dari istilah-istilah statistik yang disebutkan dengan suara manusia umum dan intonasinya seperti Sundari Soekotjo bernyanyi. Mata saya sudah sayu dan terpejam sedikit demi sedikit, hingga aku terlelap dan terbawa ke dimensi lain.

Dosen berambut putih dan botak tengah dan temanku keturunan Korea membangunkanku  dari tidurku yang sangat lelap. Aku melihat jam dari handphone menunjukkan pukul 8.45. Aku berlari tunggang langgang menuju toilet sambil menahan pipis.

10 menit kemudian, aku kembali dari kamar kecil, duduk seperti biasa dan mencoba menatap dengan tajam dosen penggemar berat Werder Bremen, sambil menyatat berapa hal-hal yang penting untuk dipelajari di rumah.

Waktu di jam dinding ruang kelasku menunjukkan pukul 9.10 Badanku sudah mulai tak sinkron. Mata mau terpejam. Tangan ini mencoba ku gerakan sebisa mungkin untuk menulis. Otak sudah tidak bisa memikirkan apa-apa lagi.

Wie heissen Sie ?”, tanya dosen dengan suara yang pelan.

Aku mencoba menangkap pertanyaan dosen seperti anak baru belajar bahasa Jerman.

“Hmm…….. Kurnia.”, jawab ku dengan setengah membaca huruf hijaiyah Qof, Ra, Na dan Ya.

“Apa itu probalibalitas independen ?”, tanya guruku

“Probablitas yang bebas dan mandiri.”, jawabku sambil ngelantur.

___________

Setelah kelas berakhir, aku dipanggil oleh dosen itu, karena jawabanku yang seperti anak yang tidak berpendidikan, ngelantur, asal jawab dan jauh dari teori matematika secara umum pada kelas Statistik.

“Herr Kurnia, mengapa kamu tertidur di kelas saya ? Saya hampir mengeluarkan Anda dari kelas saya karena kamu tertidur dengan pulas.”,

“Saya tidak makan dan minum, dan tidak tidur yang cukup, pak Kochmann.”, jawab dengan jujur dan sedikit menutupi kritik tentang penjelasannya yang sangat pelan.

“Bohong! Apakah menurutmu pelajaran saya membosankan bagi Anda?”,

“Saya memang sudah pernah belajar seperti itu, tetapi kelas bapak tidak membosankan.”

“Dan mengapa Anda tidak makan dan tidak minum ? Kamu ini kan bukan buruh pabrik yang mogok kerja kan.”

“Saya sedang puasa.”

“Cukup ! Saya tidak mau mendengar alasanmu. Coba kamu datang ke dokter saja. Siapa tahu kondisi mu akan jauh lebih fit untuk kelas saya selanjutnya. Besok-Besok jangan tidur di kelas saya lagi.”

BERSAMBUNG

Frankfurt am Main

15.01.2017

Ps: Kisah ini adalah kisah nyata selama penulis menjalani kuliah di Jerman

Tambahan:

THM ( Technische Hochschule Mittelhessen ): Sekolah Tinggi Teknik di daerah Hessen bagian tengah. 

Ja, Schonen Guten Morgen. Herzlich Wilkommen zur Statistik. : Selamat pagi. Selamat datang di Kelas Statistik

Wie heissen Sie ? : Siapa namamu ?

Herr: Bapak/ Saudara.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s