Posted in Bebas Berfikir, Matematika Sehari-Hari

Memanggil Kembali Ilmu yang Hilang 

Sudah hampir 20 tahun, gue bermain dengan ilmu yang penuh ketidakpastian. Angka-angka, simbol-simbol dan pembuktian dilahap dengan nikmat, meski ada yang harus dimuntahkan karena sama sekali tak lezat. Bilangan Fibonacci, Cacing-Cacing Integral, hingga berapa peluang nyokap gue dapet arisan di rumah si Fulanah sudah tersimpan di luar kepala. Walau begitu, gue kadang-kadang lupa cara ngerjain soal itu dan harus berlari untuk menempelkan kembali suatu materi di kepala.

Rapat 27 Desember 2016 di Masjid Indonesia Frankfurt menjadi tempat para pengurus Masjid menumpahkan ide baru di tahun 2017, kritik, saran, kejenuhan dan kegelisahan. Kegelisahan gue muncul sejak 3 bulan terakhir, gimana caranya gue bisa memanggil kembali materi yang sudah lama terbengkalai, tanpa menangkap materi itu kembali. Video tutorial, internet dan buku kadang nggak cukup buat gue untuk balikin ilmu itu. Gue angkat tangan dan menunggu respon pemimpin rapat.

“Yak, Rakan!”, ujar pemimpin rapat

“Saya ada usul pak, bagaimana kalau mengadakan tutor matematika untuk anak-anak kuliah, pak?”

“Nama programnya ?”

Gue bingung nama programnya apa ya ? Tutorium Mathematik ? Ntar Masjid Al-Falah ribut gara-gara namanya asal jeplak sama Masjid Frankfurt. Tutor Mathe fuer Uni ? Kagak Menarik ! Ada 3 menit mikir-mikir nama tapi sama sekali nggak ada ide.

“Frankfurt Menghitung”, ucap seorang pengurus dengan aksen Jawa.

Ada yang tertawa kecil mendengar jawaban dari dia. Hmmm namanya terdengar menarik meskipun namanya kayak gerakan sepuluh ribu langkah produk susu orang tua.

_____________

Singkat cerita, bapak pemimpin rapat memberikan usul, bagaimana kalau programnya dilaksanakan seiring berdekatan dengan klausur (semacam UAS anak-anak Jerman). Mendengar usul tersebut, gue tulis sedikit pesan singkat, tanpa gambar, tanpa poster. Intinya, ada tutor matematika hari sabtu siang. Program perdana ini bertujuan untuk mengetahui di sisi mana terjadi error. Sehingga macam-macam error  yang terjadi di program perdana bisa diantisipasi di masa yang akan datang.

Alhamdulillah, ada yang berminat hadir di program perdana. Ada yang mempersiapkan diri tes Aufnahmeprüfung Studienkolleg (Tes Penerimaan Siswa Pra Universitas) di Nordhausen. Sebagian lainnya mempersiapkan untuk klausur di kampusnya masing-masing.

Pembahasan materi sangatlah banyak. Ada materi yang sangat mudah seperti logaritma dan exponensial. Beberapa materi sudah dikuasai di kuliah tapi jarang digunakan seperti konvergen dan divergen suatu barisan dan turunan. Ada juga materi yang sama sekali belum pernah gue lakukan pendekatan seperti persamaan lewat beberapa turunan. Misalkan y”’ + y” + 3 = 2x + 3.

Intinya dari adanya program ini buat gue sendiri adalah memenuhi kepuasan pribadi dan menghilangkan keresahan dalam diri sendiri. Selain itu, waktu belajar gue bisa digunakan dengan benar, kalau ada materi yang berhubungan dengan bahan ujian. Tambahannya, gue belajar soft skill yang masih kurang dengan methode learning by doing dan trial and error. 

Masih ada beberapa error yang harus gw tutupi. Masih ada pengajar yang lebih pinter ngomong daripada gw. Masih ada pengajar yang lebih pinter ngitung daripada gw. Masih ada pengajar yang well-prepared  dari pada gw. Dan masih ada kekurangan yang harus ditutupi dalam diri sendiri

PS : Program yang sama akan berlangsung semester depan mulai bulan April atau Mei.

Tertanda,

Penulis yang sedang penat-penat ria dengan klausur.

Gießen, 30 Januari 2017

Photo by Arga (ig : @gadanes)

Advertisements

3 thoughts on “Memanggil Kembali Ilmu yang Hilang 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s