Posted in Bebas Berfikir

Reportase tentang Aksi Bela Ulama 112 versi Koran Jerman

Sore kemarin, aku membuka kotak surat di depan pintu gedung Wohnung untuk mengecek semua surat-surat atau membuang iklan-iklan dan koran hari minggu yang tak berguna. Hanya satu koran Frankfurter Allgemeine Zeitung (FAZ) yang aku bawa ke dalam Wohnung-ku. 

____________

Setelah melaksanakan sholat isya dan makan malam, halaman demi halaman aku balik. Beberapa headline utama  disajikan dalam pada koran Senin 13 Februari 2017 yaitu : 

  1. Pemilihan Presiden Jerman lewat jalur parlemen (Pemilihan di Jerman ditentukan oleh ribuan anggota dewan dari 8 partai). 
  2. Babak baru skandal emisi mobil Volkswagen yang diekspor ke Amerika. 
  3. Penolakan larangan berkunjung ke Amerika untuk beberapa negara Islam oleh presiden kontroversial Donald Trump. 

Namun headline yang disajikan sama sekali tidak menarik. Saya melirik beberapa berita luar negeri. Salah satu isi berita disitu ada aksi bela Ulama 112 di Istiqlal. 

Judul  dari reportase Aksi 112 “Protest Statt Gebet” (Protes daripada Beribadah) memunculkan suatu kesalahan dalam berfikir. Mana ada seorang muslim melakukan protes tetapi tidak memperhatikan ibadahnya baik itu yang wajib seperti sholat, zakat dan memilih pemimpin muslim dan yang sunnah seperti puasa senin kamis, sholat dhuha, memberikan salam. Kami wajib menjaga ibadah yang wajin maupun sunnah dan menjaga tiang agama. 

Pada Paragraf awal, Till Fähnders menceritakan tentang kehidupan etnis Tionghoa dan umat muslim di Jakarta terutama setelah merayakan tahun baru imlek. Masyarakat etnis tionghoa masih melaksanakan aktivitasnya seperti biasa seperti beribadah dan berkerja. Berbeda dengan masyarakat etnis Tionghoa, umat muslim menuntut Basuki Tjahaja Purnama a.k.a Ahok segera ditangkap karena penistaan Al-Quran. 

Dalam paragraf awal, penulis kelahiran Kiel menuliskan ribuan umat Islam yang menuntut Ahok segera ditangkap. Namun faktanya, umat Islam yang menuntut Ahok ditangkap sudah mencapai jutaan. Lalu, mereka menulis umat Islam adalah Islamisten. Kata Islamisten atau islamistischen sering sekali digunakan ketika menyebutkan teroris seperti ISIS. Selain itu FPI dianggap oleh pihak koran ini sebagai Tentara Muslimin Terakhir, mereka menganggap umat islam lebih sering protes daripada beribadah. Maaf, kami sebagai umat Islam melaksanakan ibadah 5 kali sehari, sedangkan protes baru 4 kali dalam 9 bulan ini. 

Pada isi berita di koran yang berdiri sejak 1949, ada beberapa slogan-slogan demonstran yang biasa saja” Gubernur Muslim ? Yes “, “Penjarakan Ahok! “, hingga yang provokatif “Bunuh Ahok!” (Kemungkinan provokator) tertulis dalam artikel ini.  FAZ menjelaskan bahwa Ahok tidak boleh dipilih di Pilkada DKI Jakarta karena dia Cina dan Kristiani (Jelas, FAZ menuliskan konten-konten yang berbau SARA) . Selain itu, Ahok juga melakukan pelecehan terhadap Al-Quran dan berani menafsirkan sendiri. Penjabaran FAZ dalam hal ini sangat tidak tepat. Kebanyakan masyarakat menilai, bahwa Ahok tidak boleh dipilih bukan karena alasan yang disebutkan oleh pak Fähnders, namun karena dia bermulut bensin (mengutip Cak Nun dalam kajiannya yang terbaru) dan tidak mencerminkan akhlak dan aqidah seorang pemimpin. Apakah FAZ tidak punya etika penulisan bahwa penulis tidak boleh memasukan hal-hal yang berbau SARA dalam suatu konten ?  

Setelah menjabarkan isi, reporter koran dengan motto korannya “Koran untuk Jerman” melakukan wawancara terhadap wawancara terhadap salah satu masyarakat etnis tionghoa dan peserta Aksi Bela Ulama 112. Masing-masing dari mereka diambil satu orang untuk ditanya tentang aksi 112.

FAZ sangat berat sebelah dalam memberikan pertanyaan kepada 2 narasumber yang berbeda. Pertanyaan dari koran ini terhadap masyarakat etnis tionghoa bertujuan membangun rasa kasihan terhadap pembaca, seperti ketakutan aksi-aksi yang dilakukan oleh ummat Islam bisa membentuk kekacauan seperti tragedi 98 dan ketidaknyamanan mereka di ibu kota. Akan tetapi, wartawan FAZ mengajukan pertanyaan yang berburuk sangka kepada peserta aksi bela Ulama seperti “Apakah kalian dibayar oleh sejumlah pihak ?”,”Apakah aksi ini ada kepentingan politik semata agar Basuki tidak terpilih?”. Alhamdulillah peserta aksi bisa menjawab pertanyaan koran ini walau dengan kemampuan bahasa asing yang terbatas. 

Pada penutup, penulis yang sudah tinggal di Singapura sejak 2012 menutup dengan situasi Jakarta menjelang Pilkada. Masyarakat Jakarta menginginkan Gubernur baru. Tak hanya itu, mereka juga menginginkan Jakarta punya public transport yang nyaman, pendidikan yang baik dan bisa dinikmati semua orang. Pada penutup, penulis artikel ini menyebutkan calon lain seperti Agus Harimurti Yudhoyono dengan alasan keturunan mantan presiden sebelumnya Susilo Bambang Yudhoyono. Anies Baswedan-Sandiaga Uno-nya mana bos ??

Itulah sedikit rangkuman tentang artikel Aksi bela ulama menurut FAZ. Ane doakan Jakarta punya gubernur yang baik akhlaknya, lisannya dan aqidahnya, serta dekat dengan ulama dan orang-orang sholeh. 

Giessen 

14 Februari 2017

Wohnung : tempat kos-kosan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s