Dosa dalam Kemasan Ilmu Matematika (Bagian 1)

Sudah kurang lebih 15 tahun, aku memperlajari ilmu angka-angka. Banyak sekali ilmu-ilmu abstrak itu disimpan satu demi satu dalam memori ku.  Dari bagaimana menghitung 1 + 1 hingga menyelesaikan sebuah persamaan y’ + 2xy = – 3 + 2x. 

 15 Tahun itu hanyalah belajar matematika secara general, mendasar dan belum sedalam orang-orang di luar sana. Berapa lamakah aku mendalami ilmu yang penuh ketidak pastian itu ? Ya, hanya 2 tahun. 2 Tahun sudah ku dalami ilmu angka itu. 2 Tahun itu lah aku terjembap dalam hal-hal yang tidak diridhoi oleh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dalam kemasan kuliah Matematika Ekonomi. 

Inilah dosa pertama yang aku pelajari di perguruan tinggi dalam suatu kemasan permainan semu. Permainan yang sering dimainkan oleh para ekonom dan investor. Permainan ini sangatlah sering ditemukan di bank-bank pada umumnya. 

Permainan pertama yang ku mainkan adalah “Bunga”. Bunga yang aku lihat tiada putiknya, tidak mekar, dan tiada sari patinya. Hanya sejumlah angka dalam persen per tahun atau sekian persen per Kuartal. Bunga tersebut membuat seseorang kesulitan dalam membayar cicilan, sebab nominalnya meningkat secara linear, hiperbola, bahkan eksponensial setiap bulan atau setiap tahun. 

Di permainan itu, aku melihat bagaimana transaksi itu dimainkan di bank-bank konvensional ? Bagaimana seorang penerima bunga bank mengali harta “berlebih” dari pemberi ? Dan bagaimana seorang pembayar merasakan beban yang besar dari transaksi tadi? Semua pertanyaan itu terjawab dalam 250 halaman skrip mata kuliah matematika finansial, tetapi tidak mungkin terjawab semua dalam sebuah artikel ini. 

Sebenarnya, bunga bank itu tertulis di akadnya, tetapi bunga bank sekian persen mewajibkan seorang pembayar membayar sejumlah uang “lebih” kepada bank atau pembeli. Nah, uang berlebih ini justru meleset dari akad yang seharusnya terjadi. Bahkan uang berlebih ini meningkat setiap bulannya. 

Misalkan, ada sebuah motor 2 tak harganya 10 juta dicicil dengan bunga 12% per tahun selama 1 tahun. Kita tahu hasil dari pembayaran itu adalah 11.2 juta rupiah, namun pembayaran setiap bulannya bertambah seiring dengan berjalannya cicilan. Jelas hal ini menyusahkan para pembeli dalam membayar cicilan tersebut. 

Lebih baik, si penjual motor langsung menetapkan harga motor itu adalah 11.2 juta dengan cicilan 1 tahun. Akadnya jelas dan pembayarannya sangatlah jelas dan tidak menyusahkan para pembeli, walaupun untung dari penjualan pembelian motor tadi adalah sama. Mengapa pembelian motor seperti ini justru lebih aman ? Karena akad pembeliannya jelas dan tidak perlu lagi membayar uang yang berlebih. 

Harta yang berlebih dari akad di kasus pertama itu dinamakan “Riba”, karena penjual memaksa si pembeli memberikan harta berlebih yang diluar akad yang ditentukan tadi. Uang yang didapatkan oleh si penjual tadi tentu sangatlah menyusahkan pembeli untuk memenuhi ciclilan yang sifatnya linear atau exponential.  

Pencaharian sebuah harta belebih oleh seseorang itu diibaratkan oleh Rasulullah SAW lebih berat dari 60 kali berzina seperti dalam hadits Riwayat Ahmad yang artinya.

Satu dirham riba yang dimakan seseorang, dan dia mengetahui (bahwa itu adalah riba), maka itu lebih berat daripada enam puluh kali zina”. (HR Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah)

Selain itu, Riba itu merupakan salah satu dari tujuh perkara yang membinasakan seperti dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim

“Jauhilah oleh kalian 7 perkara yang membinasakan”. Para sahabat bertanya, “Apa itu, Ya Rasulullah?”. Rasulullah saw menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan, menuduh wanita-wanita Mukmin yang baik-baik berbuat zina”. Juga didasarkan pada sebuah riwayat, bahwa Nabi saw telah melaknat orang yang memakan riba, wakil, saksi, dan penulisnya”. [HR. Imam Bukhari dan Muslim]

Di sinilah kita tahu bahwa riba merupakan perbuatan yang sangatlah dilaknat oleh Maha yang Memberi Rezeki. Baiknya kita menghindari perbuatan seperti dengan menjelaskan akadnya secara detil. 

Ini lah dosa pertama yang aku pelajari dalam mempelajari ilmu angka-angka di kampus tercinta Technische Hochschule Mittelhessen. Masih banyak tumpukan dosa lainnya belum aku selami. Seiring dengan berjalannya waktu dan ilmu yang didapat, dosa-dosa ini akan dijelaskan satu per satu di kemudian hari. 

Advertisements

6 thoughts on “Dosa dalam Kemasan Ilmu Matematika (Bagian 1)

Add yours

  1. Apakah berdosa kalau mempelajari ilmu?
    Apakah berdosa seorang polisi yang mempelajari ilmu mencuri? Ilmunya hanya dipakai untuk mempelajari modus operandi dan menangkap pencuri.
    Apakah berdosa seorang Rakan yang mempelajari ilmu Matematika Ekonomi? Berkat dirinya lah kita tahu bahayanya riba dari sudut matematika.
    Berdosakah seorang Rakan, bila dirinya nanti mengembangkan Ilmu Matematika Ekonomi Syariah?

    Liked by 1 person

    1. Waalaikumussalam Wr Wb pak Yusuf.

      Saya pernah merasakan hal yang sama ketika saya dihadapkan dengan sulitnya mengerjakan soal-soal matematika Finansial seperti bunga, asset dan sebagainya. Semua Ilmu tentu ada manfaatnya, namun terkadang tujuannya berbeda-beda. Pak Yusuf sudah menjawab beberapa contoh yang pak Yusuf jelaskan
      Nah tentu yang menjadi pertanyaan adalah, berdosakah saya bila nantinya mengembangkan Ilmu Matematika Ekonomi Syariah ?

      Jika saya dan teman-teman yang berfokus di matematika ekonomi mengembangkan ekonomi syariah terutama dengan sudut pandang matematika ekonomi suatu hari nanti (jawab saja Aamiin 🙂 ) ,tentu kami harus membawa matematika ekonomi syariah ini arah yang lebih positif dan tentu dengan koridor-koridor yang sudah diajarkan dalam Agama Islam. Agar nantinya ilmu tersebut tidak membuat orang terperangkap dalam kemaksiatan dan tidak menimbulkan mudharat di kemudian hari.

      Liked by 1 person

  2. Rakan hebat bisa menulis spt ini. Btw, tanya dong. Jd kalau bunga bank dihitung flat, spt contoh yg kamu cantumkan di atas yakni jml utang rp10 jt dibayar rp11,5 jt kalau sdh diakadkan berarti bukan riba lg? Krn sesuai akad, gak ada uang berlebih yg nantinya harus dibayarkan kreditor spt perhitungan bunga efektif yg berdasarkan bunga floating itu.

    Like

    1. Waalaikumussalam wr wb bu Wita
      Kalau kita ambil kasus pertama maka akadnya sejumlah 10 juta rupiah.
      Kalau mau mencicil uang tersebut maka 10 juta ÷ jumlah bulan seorang melakukan cicilan, sisanya merupakan tambahan, dan tambahannya mohon maaf merupakan riba juga, karena pembayaran tersebut melenceng dari akad yang semestinya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: