Tidak Siap Menuju Rumah 

Kegiatan Kuliah Matematika Bisnis Semester 4 akan segera berakhir. Ujian telah didepan mata. Tiket sudah digenggam dengan pasti. Aku membawa koper kosong berisi barang titipan orang dari Frankfurt. Harapannya, aku membawa banyak oleh-oleh dari negeri sendiri seperti puteri salju dan buku dari penerbit ayah seperti Reach your Dreams, Happy Little Soul dan Generasi Langgas saat kembali ke Jerman. 

 Mental aku masih berkata lain. Aku sebaiknya bertahan disini dan meneruskan mimpi, daripada aku dicecar pertanyaan standar yang terucap oleh teman-teman Masjid Indonesia dari keluarga besar ayah dan ibu. 

“Rakan, udah punya cewek (pasangan/pacar) belom ?”

“Rakan, jadi kapan nikah ? Semangat Syawalnya keliatan banget hehe. ”

“Kak, kapan punya cucu? Ibu suka nulis kata cucu di whatsapp dengan dalih menyebutkan nama saudara-saudara sepupu seperti Farrel, Azka, Prabu, Pratap, Petugas, Pamong, Praja.”

Kalau pertanyaan itu dilontarkan oleh teman-teman senasib sepenanggungan di Frankfurt (terutama untuk pertanyaan yang ketiga) , aku anggap menjadi bahan bercandaan yang wajar. Toh penderitaan buat saya ini hanya sementara dan mereka belum menemukan solusinya. Nanti ada masanya saya meledek mereka hehe – lalu kapan ? 

Ledekan tersebut menjadi topik yang dianggap serius bagi keluarga besar dari ayah dan ibu. Pandangan keluarga besar ibu dan ayah berbeda dalam menanggapi urusan yang satu ini.

Jawaban apapun pada pertanyaan itu tidak menjadi suatu masalah di keluarga besar dari ibu. Kami sudah besar dan bisa memikul tanggung jawab yang ada dalam hidup. Kami hanya harus menanggung segala resiko bagi diri sendiri. Itu yang terpenting. 

Hal tersebut tidak aku temukan di keluarga besar dari ayah. Slogan “Bertemu pangkal rukun, bercanda pingkal-pingkal” menjadi sedikit melenceng akibat dari jawaban pertanyaan standar tersebut. 

Jawaban “nanti” , “belum” atau “tidak” pada pertanyaan sekelas itu bagi keluarga besar ayah (terutama) menjadi sebuah hal yang memalukan atau dianggap sebelah mata bagi yang lainnya. Mereka mungkin anggap saya tidak pintar, jelek secara fisik atau tidak jago merayu. Selain itu, mereka berusaha memanggil saudara-saudara lainnya agar menjodohkan anaknya dengan saya dengan bermacam cara seperti via whatsapp, sms dan jejaring sosial yang lain. 

Aku sama sekali nggak yakin dengan tawaran mereka. Ada yang jadi tapi setengah matang. Ada yang jadi dan matang. Ada yang setengah matang sih tapi ternyata sudah dipesan orang lain. Ada juga yang setengah matang tapi belum jadi.

Intinya aku hanya bisa menghela napas. Harap bersabar, ini ujian. Insya Allah aku dapat dipasangkan orang yang terbaik pula di waktu yang tepat. 

Ya udah, gimana sih nyari pendamping hidup ?

Gih, tanya yang sudah ada pendamping hidupnya ! Ane masih sama-sama nyari juga kayak kalian. 

Lah, kenapa jadi ngomongin jodoh ? Ah, mungkin ane terlalu sering melihat foto nikah di Instagram seperti akhi Muzammil Hasbullah dan Isteri. 

Ya, inilah salah satu hal yang membuat ku tak mau pulang ke rumah. Pulang ke rumah seharusnya membawa keceriaan dan kembali dengan keceriaan, bukan membawa beban eksternal ke dalam diri sendiri. 

Ya sudah, semoga mendapat pendamping hidup yang sholeh/sholehah, kuat agamanya, baik hati dan akhlaknya, parasnya cakep/cantik dan membimbing kita semua ke surga-Nya.

Juli 9
Sepanjang jalan Gießen-Frankfurt

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: