Dari Anambas Menuju Tembok Berlin

Kuliah di luar negeri merupakan salah satu mimpi mayoritas pelajar di Indonesia. Mulai dari pelajar dari kota-kota besar dan kota-kota kecil sampai pelajar dari daerah yang tertinggal sekalipun bermimpi untuk kuliah di luar negeri, terutama di negara-negara maju seperti Jerman, Belanda hingga Kanada.

Salah satu pelajar yang telah mewujudkan mimpinya yaitu Ebin Ardiansyah dari Berlin.

Ebin Ardiansyah adalah seorang mahasiswa Technische Universität Berlin (TU Berlin)Ia bertempat tinggal di Terempa, sebuah daerah di kepulauan Anambas, kepulauan Riau.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Ebin mendapatkan sejumlah uang dari beasiswa pemerintahan Kepulauan Riau. Beasiswa itu menjamin kehidupan Ebin, hingga beliau menyelesaikan perkuliahannya di jenjang sarjana. Tak hanya itu, ia juga diangkat menjadi PNS kepulauan Riau dengan status tidak tetap.

Sehari-harinya, ia habiskan waktunya di masjid IWKZ (Indonesische Wissenheit und Kulturzentrum) Al-Falah untuk berkutat dengan jurusan perkuliahnnya Energie- und Prozesstechnik dan juga ilmu agama Islam. Tak hanya itu, ia juga merupakan aktivis masjid di sana sebagai pengajar Tutorium untuk jenjang pra-Studienkolleg (Semacam kelas penyetaraan sebelum masuk jenjang S1 di Jerman) di Masjid Al-Falah.

Menurut saya, Ebin mempunyai predikat yang istimewa yang belum tentu orang lain dapatkan. Biasanya, kebanyakan orang berkuliah S1 di Jerman melalui agen, jalur mandiri yang ditawarkan oleh Goethe Institut dan sejenisnya. Tak hanya itu, beasiswa untuk kuliah di Jerman biasanya diraih di jenjang Pascasarjana. Ebin mendapat 2 hal sekaligus yang istimewa di mata saya yaitu beasiswa di Jerman untuk jenjang sarjana.

Kita bisa belajar dari beliau, bahwa keterbatasan informasi yang ia dapat di daerah pedalaman sana, bukan menjadi penghambat bagi bang Ebin dalam mencapai cita-citanya yaitu kuliah di luar negeri. Keterbatasan hanya sebuah batu kerikil kecil yang harus dilewati, demi mencapai cita-cita yang lebih terang.

Sebagai penutup, ada suatu kutipan sebuah novel 9 Summers 10 Autumns yang bisa membawa kalian kembali berusaha untuk mencapai cita-cita.

Impian harus menyala dengan apa pun yang kita miliki, meskipun yang kita miliki tidak sempurna, meskipun itu retak-retak.

Salam.
Di tepian sungai Lahn

11 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: