Posted in Bebas Berfikir

Polemik Hukum Usaha Paytren

Satu hari di bulan Desember pasca aksi damai 212, berbagai bentuk usaha muncul ke pasaran. Koperasi Syariah 212 adalah sebagian kecil dari bentuk usaha syariah di Indonesia. Selain koperasi syariah 212 mulai menancapkan eksistensi, Paytren dengan pimpinan Ust. Yusuf Mansur menawarkan opsi lain dalam ekonomi berjamaah, yaitu usaha melalui aplikasi di smartphone. 
Beberapa ahli ekonomi syariah di Indonesia sontak membuat kejutan mengenai penggunaan paytren beberapa waktu lalu, bahwa Paytren itu haram. Mereka menganggap Paytren adalah suatu usaha syariah berkonten Multi Level Marketing konvensional seperti tukar menukar antara uang dengan uang yang tak seimbang, iming-iming tertentu dan mengandung riba nasi’ah

Hukum Paytren dari Ust. Erwandi Tarmizi

Lantas, mengapa Paytren tidak boleh digunakan sebagai ladang pendapatan yang berbasis ekonomi kerakyatan ? Apakah Paytren tidak mendatangkan manfaat bagi orang banyak ? Apakah Paytren menerapkan sistem MLM yang menjual barang yang spekulatif  (Contohnya beli Rice Cooker harga 10 juta gratis ke Singapura) ? Ini sedikit pendapatku mengenai usaha berbasis smartphone ini.

Paytren adalah suatu ladang usaha berbasis ekonomi kerakyatan yang dipimpin oleh Ustad Yusuf Mansur dan tim dalam suatu perusahaan yaitu PT. Veritra Sentosa Indonesia. Usaha ini mempunyai beberapa fitur yang memudahkan sesorang dalam melakukan transaksi seperti pembayaran pulsa, pembayaran tiket kereta, pembayaran token PLN bahkan berbelanja online dan offline. Bahkan usaha ini menawarkan umroh gratis bersama Ust. Yusuf Mansur , belajar tilawah gratis dengan Daarul Quran.

Setelah kita mengenal secara general apa itu Paytren. Mari kita telusuri aturan main dari usaha Paytren ini.

Paytren mempunyai dua paket yaitu paket Basic dan Titanium. Paket Basic adalah paket dasar dari bisnis Paytren, sedangkan paket Titanium adalah paket tingkat lanjut dari bisnis ini. 

Penulis menelusuri perbedaan dari kedua paket tersebut. Pertama, pengguna paket basic mendapat 1 lisensi, sedangkan pengguna paket titanium mendapat 31 lisensi. Kedua, pengguna paket basic boleh deposit cashback maksimal 15 ribu rupiah, tetapi maksimal deposit cashback pengguna paket titanium berjumlah lima juta rupiah per lisensi. Terakhir, pengguna paket basic berpotensi mendapatkan bonus maksimal 300 ribu, tapi pengguna paket titanium di Paytren bisa mendapatkan bonus maksimal 9.3 juta rupiah. 

Perusahaan Paytren mempunyai juga malam penghargaan Paytren (Paytren Vaganza). Dimana seseorang akan mendapatkan reward dari perusahaan jika ia berhasil menyeimbangkan jumlah lisensi dari komunitas itu sendiri (misal kanan 100 lisensi kiri 100 lisensi). Bonusnya pun juga bermacam tergantung jumlah lisensi di komunitas yang kita raih. 

Nah apa yang membedakan usaha Paytren dengan usaha yang lain, bahkan dengan bank konvensional, bahkan dengan bisnis Multi Level Marketing pada umumnya. 

Dalam teori marketing kontemporer, mulut seorang konsumen berperan banyak dalam memancing konsumen lain untuk membeli barang tersebut. Misalkan, si X akan menawarkan kepada si Y buku Happy Little Soul, karena si X merasa puas membaca buku tersebut. Sebab si Y yang telah membeli buku itu juga puas dengan barang tadi, ia akan menawarkan ke kerabatnya yaitu si T. Kemudian kerabatnya tertarik dan membeli barang tersebut. Namun, penawaran barang dari kita kepada orang lain tidak dinilai oleh perusahaan buku itu, tetapi perusahaan buku tadi menjadi laku keras. 

Dari marketing konvensional tadi, Paytren mencoba menghargai usaha setiap mulut konsumen. Di sinilah letak perbedaan Paytren dengan sistem marketing konvensional. 

Penawaran usaha Paytren kepada pengguna baru Paytren akan mendapatkan bonus dari perusahaannya Yusuf Mansur. Sistem bonus disini adalah pengguna usaha paytren akan mendapatkan bonus, jika pengguna atau teman pengguna dalam satu komunitas berhasil membawa sepasang klien baru. Namun, sistem bonus ini berlaku hingga 10 generasi . Artinya kita mendapat bonus hingga 10 turunan perusahaan. 

Selain fitur bonus, paytren menawarkan sistem cashback. Apa itu sistem cashback ? Apakah cashback juga diterapkan dalam bank konvensional ? 

Dahulu, kita sering percaya dengan iklan-iklan bank “Tingkatkan terus transaksi Anda dan raih kesempatan dapatkan hadiahnya” . Transaksi dalam bank konvensional menpunyai cashback yang sedikit dari produsen, tetapi banyak konsumen sering melakukan transaksi. Alhasil, sedikit cashback yang didapat tadi menjadi bukit. Walau sebuah bank konvesional meraup cashback yang sangat besar, cashback tadi hanya dinikmati oleh orang-orang yang berada di bank konvensional, bukan konsumen yang melakukan transaksi tadi. 
Paytren menginginkan cashback dari setiap konsumen dinikmati oleh masyarakat banyak (mitra paytren), bukan hanya dinikmati oleh satu atau dua pihak seperti pada sistem di bank konvensional. 

Cashback dalam Paytren adalah pengembalian uang dari uang administrasi perusahaan, jika seseorang dari komunitas kita di manapun generasinya melakukan transaksi. Keuntungan setiap mitra sebesar 2.88% dari harga basis per transaksi. Cashback yang telah diraup oleh mitra Paytren akan dikembalikan setiap tanggal 15 di setiap bulan.

Perbedaan-perbedaan dari paytren terhadap usaha konvensional telah dijelaskan oleh penulis. Namun, ini merupakan awal cerita panjang dari sebuah polemik dari hukum penggunaan Paytren. Polemik ini harus menemui titik tengah demi kemaslahatan ummat di Indonesia maupun di dunia. Polemik seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut hingga saat ini, agar ekonomi syariah juga bisa bersaing dengan ekonomi dunia. 

Pihak Paytren dan pihak ulama sebaiknya melakukan diskusi terbuka mengenai polemik ini, sebab pernyataan dari beberapa ulama yang sudah menyebut haram serta tidak ada respons dari pihak PT Veritra Sentosa Indonesia secara cepat. Selain itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) harus memberikan sebuah pernyataan mengenai penggunaan usaha paytren ini, karena mayoritas masyarakat belum yakin dengan penggunaan usaha tersebut hingga ada keputusan yang jelas dari MUI. 

Wallahualam bi Shawwab

Selamat berpuasa !!!
Pengguna Paytren Basic dari daerah Frankfurt dan sekitarnya

Posted in Bebas Berfikir

Reportase tentang Aksi Bela Ulama 112 versi Koran Jerman

Sore kemarin, aku membuka kotak surat di depan pintu gedung Wohnung untuk mengecek semua surat-surat atau membuang iklan-iklan dan koran hari minggu yang tak berguna. Hanya satu koran Frankfurter Allgemeine Zeitung (FAZ) yang aku bawa ke dalam Wohnung-ku. 

____________

Setelah melaksanakan sholat isya dan makan malam, halaman demi halaman aku balik. Beberapa headline utama  disajikan dalam pada koran Senin 13 Februari 2017 yaitu : 

  1. Pemilihan Presiden Jerman lewat jalur parlemen (Pemilihan di Jerman ditentukan oleh ribuan anggota dewan dari 8 partai). 
  2. Babak baru skandal emisi mobil Volkswagen yang diekspor ke Amerika. 
  3. Penolakan larangan berkunjung ke Amerika untuk beberapa negara Islam oleh presiden kontroversial Donald Trump. 

Namun headline yang disajikan sama sekali tidak menarik. Saya melirik beberapa berita luar negeri. Salah satu isi berita disitu ada aksi bela Ulama 112 di Istiqlal. 

Judul  dari reportase Aksi 112 “Protest Statt Gebet” (Protes daripada Beribadah) memunculkan suatu kesalahan dalam berfikir. Mana ada seorang muslim melakukan protes tetapi tidak memperhatikan ibadahnya baik itu yang wajib seperti sholat, zakat dan memilih pemimpin muslim dan yang sunnah seperti puasa senin kamis, sholat dhuha, memberikan salam. Kami wajib menjaga ibadah yang wajin maupun sunnah dan menjaga tiang agama. 

Pada Paragraf awal, Till Fähnders menceritakan tentang kehidupan etnis Tionghoa dan umat muslim di Jakarta terutama setelah merayakan tahun baru imlek. Masyarakat etnis tionghoa masih melaksanakan aktivitasnya seperti biasa seperti beribadah dan berkerja. Berbeda dengan masyarakat etnis Tionghoa, umat muslim menuntut Basuki Tjahaja Purnama a.k.a Ahok segera ditangkap karena penistaan Al-Quran. 

Dalam paragraf awal, penulis kelahiran Kiel menuliskan ribuan umat Islam yang menuntut Ahok segera ditangkap. Namun faktanya, umat Islam yang menuntut Ahok ditangkap sudah mencapai jutaan. Lalu, mereka menulis umat Islam adalah Islamisten. Kata Islamisten atau islamistischen sering sekali digunakan ketika menyebutkan teroris seperti ISIS. Selain itu FPI dianggap oleh pihak koran ini sebagai Tentara Muslimin Terakhir, mereka menganggap umat islam lebih sering protes daripada beribadah. Maaf, kami sebagai umat Islam melaksanakan ibadah 5 kali sehari, sedangkan protes baru 4 kali dalam 9 bulan ini. 

Pada isi berita di koran yang berdiri sejak 1949, ada beberapa slogan-slogan demonstran yang biasa saja” Gubernur Muslim ? Yes “, “Penjarakan Ahok! “, hingga yang provokatif “Bunuh Ahok!” (Kemungkinan provokator) tertulis dalam artikel ini.  FAZ menjelaskan bahwa Ahok tidak boleh dipilih di Pilkada DKI Jakarta karena dia Cina dan Kristiani (Jelas, FAZ menuliskan konten-konten yang berbau SARA) . Selain itu, Ahok juga melakukan pelecehan terhadap Al-Quran dan berani menafsirkan sendiri. Penjabaran FAZ dalam hal ini sangat tidak tepat. Kebanyakan masyarakat menilai, bahwa Ahok tidak boleh dipilih bukan karena alasan yang disebutkan oleh pak Fähnders, namun karena dia bermulut bensin (mengutip Cak Nun dalam kajiannya yang terbaru) dan tidak mencerminkan akhlak dan aqidah seorang pemimpin. Apakah FAZ tidak punya etika penulisan bahwa penulis tidak boleh memasukan hal-hal yang berbau SARA dalam suatu konten ?  

Setelah menjabarkan isi, reporter koran dengan motto korannya “Koran untuk Jerman” melakukan wawancara terhadap wawancara terhadap salah satu masyarakat etnis tionghoa dan peserta Aksi Bela Ulama 112. Masing-masing dari mereka diambil satu orang untuk ditanya tentang aksi 112.

FAZ sangat berat sebelah dalam memberikan pertanyaan kepada 2 narasumber yang berbeda. Pertanyaan dari koran ini terhadap masyarakat etnis tionghoa bertujuan membangun rasa kasihan terhadap pembaca, seperti ketakutan aksi-aksi yang dilakukan oleh ummat Islam bisa membentuk kekacauan seperti tragedi 98 dan ketidaknyamanan mereka di ibu kota. Akan tetapi, wartawan FAZ mengajukan pertanyaan yang berburuk sangka kepada peserta aksi bela Ulama seperti “Apakah kalian dibayar oleh sejumlah pihak ?”,”Apakah aksi ini ada kepentingan politik semata agar Basuki tidak terpilih?”. Alhamdulillah peserta aksi bisa menjawab pertanyaan koran ini walau dengan kemampuan bahasa asing yang terbatas. 

Pada penutup, penulis yang sudah tinggal di Singapura sejak 2012 menutup dengan situasi Jakarta menjelang Pilkada. Masyarakat Jakarta menginginkan Gubernur baru. Tak hanya itu, mereka juga menginginkan Jakarta punya public transport yang nyaman, pendidikan yang baik dan bisa dinikmati semua orang. Pada penutup, penulis artikel ini menyebutkan calon lain seperti Agus Harimurti Yudhoyono dengan alasan keturunan mantan presiden sebelumnya Susilo Bambang Yudhoyono. Anies Baswedan-Sandiaga Uno-nya mana bos ??

Itulah sedikit rangkuman tentang artikel Aksi bela ulama menurut FAZ. Ane doakan Jakarta punya gubernur yang baik akhlaknya, lisannya dan aqidahnya, serta dekat dengan ulama dan orang-orang sholeh. 

Giessen 

14 Februari 2017

Wohnung : tempat kos-kosan

Posted in Bebas Berfikir, Matematika Sehari-Hari

Memanggil Kembali Ilmu yang Hilang 

Sudah hampir 20 tahun, gue bermain dengan ilmu yang penuh ketidakpastian. Angka-angka, simbol-simbol dan pembuktian dilahap dengan nikmat, meski ada yang harus dimuntahkan karena sama sekali tak lezat. Bilangan Fibonacci, Cacing-Cacing Integral, hingga berapa peluang nyokap gue dapet arisan di rumah si Fulanah sudah tersimpan di luar kepala. Walau begitu, gue kadang-kadang lupa cara ngerjain soal itu dan harus berlari untuk menempelkan kembali suatu materi di kepala.

Rapat 27 Desember 2016 di Masjid Indonesia Frankfurt menjadi tempat para pengurus Masjid menumpahkan ide baru di tahun 2017, kritik, saran, kejenuhan dan kegelisahan. Kegelisahan gue muncul sejak 3 bulan terakhir, gimana caranya gue bisa memanggil kembali materi yang sudah lama terbengkalai, tanpa menangkap materi itu kembali. Video tutorial, internet dan buku kadang nggak cukup buat gue untuk balikin ilmu itu. Gue angkat tangan dan menunggu respon pemimpin rapat.

“Yak, Rakan!”, ujar pemimpin rapat

“Saya ada usul pak, bagaimana kalau mengadakan tutor matematika untuk anak-anak kuliah, pak?”

“Nama programnya ?”

Gue bingung nama programnya apa ya ? Tutorium Mathematik ? Ntar Masjid Al-Falah ribut gara-gara namanya asal jeplak sama Masjid Frankfurt. Tutor Mathe fuer Uni ? Kagak Menarik ! Ada 3 menit mikir-mikir nama tapi sama sekali nggak ada ide.

“Frankfurt Menghitung”, ucap seorang pengurus dengan aksen Jawa.

Ada yang tertawa kecil mendengar jawaban dari dia. Hmmm namanya terdengar menarik meskipun namanya kayak gerakan sepuluh ribu langkah produk susu orang tua.

_____________

Singkat cerita, bapak pemimpin rapat memberikan usul, bagaimana kalau programnya dilaksanakan seiring berdekatan dengan klausur (semacam UAS anak-anak Jerman). Mendengar usul tersebut, gue tulis sedikit pesan singkat, tanpa gambar, tanpa poster. Intinya, ada tutor matematika hari sabtu siang. Program perdana ini bertujuan untuk mengetahui di sisi mana terjadi error. Sehingga macam-macam error  yang terjadi di program perdana bisa diantisipasi di masa yang akan datang.

Alhamdulillah, ada yang berminat hadir di program perdana. Ada yang mempersiapkan diri tes Aufnahmeprüfung Studienkolleg (Tes Penerimaan Siswa Pra Universitas) di Nordhausen. Sebagian lainnya mempersiapkan untuk klausur di kampusnya masing-masing.

Pembahasan materi sangatlah banyak. Ada materi yang sangat mudah seperti logaritma dan exponensial. Beberapa materi sudah dikuasai di kuliah tapi jarang digunakan seperti konvergen dan divergen suatu barisan dan turunan. Ada juga materi yang sama sekali belum pernah gue lakukan pendekatan seperti persamaan lewat beberapa turunan. Misalkan y”’ + y” + 3 = 2x + 3.

Intinya dari adanya program ini buat gue sendiri adalah memenuhi kepuasan pribadi dan menghilangkan keresahan dalam diri sendiri. Selain itu, waktu belajar gue bisa digunakan dengan benar, kalau ada materi yang berhubungan dengan bahan ujian. Tambahannya, gue belajar soft skill yang masih kurang dengan methode learning by doing dan trial and error. 

Masih ada beberapa error yang harus gw tutupi. Masih ada pengajar yang lebih pinter ngomong daripada gw. Masih ada pengajar yang lebih pinter ngitung daripada gw. Masih ada pengajar yang well-prepared  dari pada gw. Dan masih ada kekurangan yang harus ditutupi dalam diri sendiri

PS : Program yang sama akan berlangsung semester depan mulai bulan April atau Mei.

Tertanda,

Penulis yang sedang penat-penat ria dengan klausur.

Gießen, 30 Januari 2017

Photo by Arga (ig : @gadanes)